Tetesan mungkin masih terdengar asing di telinga anda. Tetesan adalah upacara adat khitan bagi anak perempuan. Tetesan berasal dari kata tetes, atau netes yang artinya jadi atau menjadi. Seperti sebuah telur yang menetas.
Ini dilakukan ketika anak perempuan akan menuju masa remaja. Maksudnya adalah persiapan jika anak perempuan ini sudah remaja maka sudah wajib melaksanakan sholat, sehingga harus dibersihkan dari najis. Sama seperti khitan untuk laki-laki. Sebelum memasuki remaja dilakukanlah upacara tetesan.
Upacara adat ini sekarang sudah hampir mengalami punah. Sampai saat ini tradisi ini hanya dilakukan oleh keraton Mataram saja yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Pada jaman kerajaan dulu yang dikhitan hanyalah putri-putri raja saja. Pada akhirnya tradisi tetesan dilakukan oleh orang si luar istana, atau orang awam kebanyakan.
Busana yang dipakai putri raja saat melangsungkan upacara adat ini yaitu : mengenakan busana yang berupa nyamping cindhe. Cindhe ini menggunakan model sabukwa, lonthong kamus bludiran, cathok kupu berbahan emas, slepe, kalung ular, subang gelang tretes, dan cincin tumenggul.
Tetesan seperti halnya khitanan dilakukan untuk tujuan membersihkan diri dari najis. Memotong, mengiris, atau menghilangkan kulit yang menutupi kelamin sehingga terbebas dari kotoran atau apapun sisa air seni yang menempel pada bagian dalam kelamin. Menurut pak mantri setempat agar kelihatan lebih rapi dan imut.