Prosesi Acara Pernikahan Adat Ponorogo Jawa Timur [Part.3].HD

Опубликовано: 23 Сентябрь 2026
на канале: Ankula Hasan
407
1

Jangan Lupaa subscribe ya, dan nantikan update Video terbaru dari saya...
terima kasih..

PANGGIH TEMANTEN DALAM PERKAWINAN ADAT JAWA-ISLAM DI PONOROGO
(PERKEMBANGAN PROSESI, SIMBOL-SIMBOL, DAN HIASAN)

Panggih temanten atau temu adalah resepsi pernikahan yang dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Dalam resepsi dengan basis budaya Jawa-Islam, susunan acaranya secara berurutan dapat dibedakan dalam 2 kegiatan pokok, yaitu: 

1. Ritual adat
A. Jemuk (Temu) Manten 
a.1. Balangan
a.2.Salaman
a.3.Ubengan
a.4.injak telur (wiji dadi) 
a.5.Minum parem
a.6.Gendong manten (pakai sindur) menuju pelaminan
a.7.Tukar kembang mayang

B. Mapag Besan
C. Sungkeman
D. Kacar kucur
E. Dulangan Sega Punar (Dahar Kembul)

2. Acara resepsi perkawinan
Dengan dipandu seorang pembawa acara
A. Pembukaan
B. Bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an
C. Atur mangayu bagya (ucapan selamat datang)
D. Tedhak sungging (Photo)
E. Atur pasrah pinanganten
F. Atur panampi
G. Mau’idzah hasanah (pesan/nasehat perkawinan
H. Bacaan Do’a
I. Penutup

Sedangkan yg terakhir Simbol-simbol, Hiasan temanten
1. Patah
2. Domas dan Manggolo
3. Janur kuning
4. Kembar mayang
5. Pohon pisang lengkap dengan buah dan ontong-nya
6. Cengkir gading
7. Dekorasi (kwade) pengantin
8. Pakaian
9. Musik kebogiro dan syrakalan


Penutup
Panggih Temanten dalam perkawinan dengan adat Jawa-Islam memiliki “pakem” tertentu baik dalam ritual adat, susunan acara resepsi, maupun hiasan dan simbol yang digunakan. Dalam perkembangan terakhir didapati adanya upaya penyesuaian terhadap kemajuan zaman dan efisiensi waktu dalam penyelenggaraan. Penyederhanaan ritual adat dilakukan dengan “pemangkasan” ritual. Sedangkan penyederhanaan dalam resepsi dilakukan dengan penggabungan antara beberapa acara seperti atur mangayu bagya (sambutan selamat datang) dengan atur panampi menjadi satu acara .
Simbol-simbol dan hiasan perkawinan yang kaya makna juga mengalami hal yang sama. Penyesuaian terhadap mode dan efisiensi acara turut mempengaruhi penampilannya. Disamping itu upaya islamisasi turut mempengaruhi pemaknaan dengan sudut pandang berbeda disamping juga menghadirkan paduan baru dalam bentuk dan corak.
Makna dalam simbol-simbol dan hiasan dalam perkawinan adalah kekayaan budaya yang memberikan banyak pelajaran hidup. Upaya untuk menggali dan mensosialisasikannya merupakan hal urgen untuk melestarikan budaya tersebut. Upaya-upaya kontemporer untuk menyederhakan ritual dan resepsi pernikahan juga akan tidak menjadi lepas sekaligus begitu saja meninggalkan budaya ini jika makna-makna tersebut dipahami dan tersosialisasi dengan baik. Wallahu a’lam.