Habib Luthfi Menangis Kenang Mbah Moen di 40 Hari Kewafatan KH. Maimoen Zubair

Опубликовано: 01 Июнь 2026
на канале: Kampung Youtube
143,164
1.8k

Habib Luthfi Bin Yahya Menangis Kenang Mbah Moen di 40 Hari Kewafatan KH. Maimoen Zubair 😭

Habib Luthfi Ungkap Kewalian Mbah Maimoen


Pada hari Sabtu (14/9/2019) malam, ribuan orang menghadiri acara 40 hari wafatnya KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen di Pondok Pesantren Sarang, Rembang. Hadir dalam acara tersebut Habib Luthfi Bin Yahya yang memberikan pesan di hadapan para hadirin:

Belum lama, kita ini kehilangan. Untuk sementara waktu, sulit mencari penggantinya. Peringatan 40 hari wafatnya Mbah Moen tidak hanya sekadar menjadi bukti kecintaan kepada Mbah Moen, tapi harus menjadi cambuk untuk semuanya sebagai harapan Mbah Moen. Selaku regenerasi yang harus menjawab tantangan umat dan tantangan zaman. Ini tugas untuk kita semua. Dan itu bukanlah hal yang enteng.

Rasulullah Saw. rela menanggung beban sakitnya sakaratul maut seluruh umatnya agar umat tidak ikut merasakannya sebagai bentuk tanggung jawab seorang rasul dan seorang pemimpin.

Beliau Saw. mohon kepada Allah sesakit apa pun, sedahaga apa pun, selapar apa pun, ketika sakaratul maut yang akan menimpa umatnya cukup Nabi Saw. tanggung sendiri. Jangan sampai terjadi kepada umatnya. Hal itu juga dilanjutkan oleh waratsatul anbiya.

Jangan dikira orang seperti Mbah Moen itu dikiranya orang merdeka. Tidak. Ada khususiyah yang ditanggung. Ada beban umat di pundaknya. Dan dibawa mati oleh beliau. Bagaimana yang satu auliya menanggung balaknya umat. Yang satu auliya mempunyai himayah-himayah yang luar biasa. Termasuk tugas Mbah Maimoen ini bagian yang hablul bala di Indonesia. Itu tugas beliau. Beruntunglah orang-orang yang mau mengambil ilmu dari beliau. Itu yang penting.

Perjuangan Mbah Maimoen selalu berkiblat kepada Wali Songo. Kita tidak usah jauh-jauh berkiblat. Mau ke Hadramaut, mau ke Baghdad terlalu jauh. Cukup di Indonesia ini, bagian-bagian Hadramaut, bagian-bagian Baghdad, sumber-sumber tasawuf itu telah komplit di Indonesia.

Jangan dikira wali-wali yang ada di Indonesia tingkatan maqamnya rendah dibandingkan dengan yang ada di negara-negara lain. Di Indonesia memiliki aqthab (wali quthb) lebih dari 80. Seperti Maulana Sultanul Auliya wal Arifin Sayyidina Imam Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) bin Ahmad Rahmadtillah bin Ibrahim Asmaraqandi bin Jamaludin Husein bin Ahmad Syah Jalal bin Amir bin Abdullah Azmatkhan bin Amir Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad bin Ali Kholi' Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Naqib bin Ali Uraidhi bin Ja’far Shadiq. Ibunya Ja’far Shadiq adalah Sayyidah Marwah binti Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq. Ayahnya Imam Ja’far Shodiq Muhammad Bakr bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib wabni Fatimah Az-Zahro binti Rasulullah Saw.

Jadi wali sembilan yang khususnya ada di Indonesia itu dzuriyah Ali, dzurriyah Abu Bakar, dzuriyahnya Fatimah, dan dzuriyahnya Nabi Muhammad Saw. Sunan Bonang terkenal sulthanul auliya fi zamanih fil Jawa. Yang kedua, Maulana Hasyim Sunan Drajat. Ketiga, Maulana Syarif Hidayatullah Sayyid Jabal Jati (Sunan Gunung Jati). Itu payungnya Indonesia. Himayatul Indonesia diantaranya dipegang sampai sekarang oleh beliau bertiga. Dan diteruskan generasi-generasi selanjutnya.

Banyak sekali Wali Quthub yang ada di Indonesia. Di Jawa timur ada Wali Quthub banyak. Jawa Tengah tidak ketinggalan. Jawa Barat juga sama. Jadi Indonesia itu mempunyai paku-paku yang perlu dan patut untuk dijadikan contoh kita semua, bagaimana cara perjuangan-perjuangan beliau.

Menjadi ulama di zaman sekarang enak, datang disambut dengan meriah, mendapat jamuan khusus, minumannya khusus, pulang dikasih amplop. Tapi apakah kita tidak pernah berpikir, ketika Eyangnya Mbah Maimoen Zubair masuk ke Sarang, lalu kita tarik lagi ke wali-wali sembilan dahulu. Apa dianggap wali-wali dulu enak seperti kita sekarang ini? Bagaimana beliau-beliau menghadapi orang yang belum mengerti beriman, yang belum mengerti bersuci. Kencing pun belum tentu mengerti cebok. Bagaimana yang dihadapi masih separuh telanjang dan lain sebagainya.

Dengan tabah dan sabar, beliau-beliau berjuang karena selalu mengharapkan orang itu baik dapat taufik dan hidayah dari Allah Swt. Kita sudah pernah berhadapan dengan yang seperti itu tidak?

Jangan sampai kita menjadi ahli madahil qubur yang mencibir seseorang ketika masih hidup tapi mengakui kehebatannya ketika orang itu sudah meninggal. Saat Mbah Maimoen masih hidup, sayangnya begini sayangnya begitu. Tapi setelah Mbah Maimoen meninggal, bilang nggak ada orang Seperti Mbah Maimoen. Ya wajar. Itu namanya madahil qubur. Ngalem kalau sudah di dalam kubur. Sudah biasa. Langganan. Nggak kaget model gitu itu. Apakah kita-kita ini ingin menjadi golongan madahil qubur?

Kalau hidup di zaman Sunan Kalijaga, wali kok orjenan. Wali kok main gending. Wali kok begini. Yang mengukur wali itu siapa? Seandainya kita hidup di zaman Sunan Kalijaga, mungkin kita jadi orang paling ingkar kepada Sunan Kalijaga.

   • Habib Luthfi Menangis Kenang Mbah Moen di ...