Inti geologi Pegunungan Meratus terbentuk sangat lama, yaitu ratusan juta tahun yang lalu, sebagai peristiwa kunci dalam sejarah pembentukan kerak di kawasan tersebut. Sementara itu, "munculnya daratan Borneo" sebagai pulau terpisah atau terhubung dengan daratan Asia terjadi jauh lebih belakangan, yaitu jutaan hingga ratusan ribu tahun yang lalu, dipengaruhi oleh tektonik lanjutan dan perubahan iklim global.
Munculnya daratan Borneo (Kalimantan) adalah hasil dari proses geologi yang kompleks, panjang, dan bertahap, melibatkan interaksi lempeng tektonik selama ratusan juta tahun, bukan sekadar satu peristiwa tunggal.
Secara garis besar, inilah yang terjadi sehingga muncul daratan Borneo:
1. Tahap Perakitan Kerak Purba (Mesozoikum: 252 - 66 Juta Tahun Lalu)
Ini adalah periode kunci di mana inti geologi Borneo mulai terbentuk.
Tumbukan dan Subduksi: Bagian-bagian awal yang membentuk Pulau Borneo adalah gabungan dari beberapa blok kerak benua yang bergerak dan material dasar samudra.
Pegunungan Meratus: Merupakan bukti paling nyata dari proses ini. Sekitar 200 hingga 100 juta tahun yang lalu (Jura Akhir - Kapur Awal), terjadi penunjaman (subduksi) lempeng samudra purba di bawah fragmen kerak benua.
Pengangkatan Ofiolit: Penunjaman ini menyebabkan material dasar samudra (ofiolit), termasuk batuan ultra basa dan batuan metamorf seperti sekis yang Anda tanyakan sebelumnya, terdorong ke atas dan terangkat ke permukaan, membentuk Pegunungan Meratus. Meratus menjadi zona sutura (jalur "jahitan") yang menyatukan blok-blok kerak.
Batuan Dasar: Proses ini menciptakan inti geologi yang stabil di bagian Barat Daya Kalimantan, dikenal sebagai Paparan Sunda atau Blok Schwaner (banyak tersusun oleh batuan granit purba).
2. Tahap Pembentukan Cekungan dan Pengangkatan (Tersier: 66 - 2.6 Juta Tahun Lalu). Setelah inti pulau terbentuk, proses geologi beralih ke pembentukan bentuk daratan seperti yang kita lihat sekarang.
Pembukaan Cekungan Sedimentasi: Aktivitas tektonik terus berlanjut (seperti rifting atau pemekaran) yang menciptakan lembah-lembah raksasa atau cekungan (misalnya, Cekungan Barito, Cekungan Kutai, Cekungan Tarakan).
Pengendapan Tebal: Cekungan-cekungan ini diisi oleh endapan sedimen yang sangat tebal selama jutaan tahun. Inilah yang menjadi sumber dari kekayaan batubara dan hidrokarbon (minyak dan gas) di Kalimantan.
Pengangkatan Regional: Menjelang akhir era Tersier (Plio-Plistosen, sekitar 5 hingga 1 juta tahun yang lalu), terjadi rezim tektonik kompresi (penekanan) yang signifikan. Proses ini menyebabkan batuan sedimen yang sudah terendapkan terlipat, terpatahkan, dan terangkat secara regional. Pengangkatan inilah yang secara fisik memunculkan dataran tinggi, perbukitan, dan pegunungan, sehingga daratan Borneo secara keseluruhan terangkat.
3. Tahap Akhir: Fluktuasi Permukaan Laut (Kuarter: 2.6 Juta Tahun Lalu - Sekarang)
Pada ratusan ribu tahun terakhir (seperti yang Anda sebutkan), "kemunculan" Borneo lebih terkait dengan kondisi pulau dan hubungannya dengan benua Asia.
Paparan Sunda: Ketika lapisan es di kutub membeku (Zaman Es/Glasial), permukaan laut global turun drastis (hingga lebih dari 100 meter). Akibatnya, Paparan Sunda (laut dangkal yang mengelilingi Borneo, Jawa, Sumatra, dan Semenanjung Malaya) menjadi daratan yang terhubung dengan Asia.
Terbentuknya Pulau: Ketika es mencair (Interglasial), permukaan air laut kembali naik, memisahkan dataran ini, dan menjadikan Borneo sebuah pulau yang berdiri sendiri, seperti yang dikenal saat ini.
Pegunungan Meratus adalah bukti dari peristiwa perakitan daratan purba (ratusan juta tahun yang lalu), sedangkan Pulau Borneo yang kita kenal sekarang adalah produk akhir dari perakitan tersebut, diikuti oleh pengangkatan regional, dan dipertegas oleh perubahan permukaan air laut (jutaan hingga ratusan ribu tahun yang lalu).