Duet Katjie & Piering (K&P) bermula dari keisengan membongkar dan membawakan ulang lagu-lagu band lain. K&P dengan berani merombak aransemen lagu-lagu yang cukup populer, khususnya di Bandung, menjadi sesuatu dengan cita rasa yang beda.
K&P adalah dua orang dengan latar belakang dan selera berlainan. Bila yang satu dikenal dengan warna etnik, maka yang lain berasal dari ranah pop. Komposisi yang demikian memang menimbulkan konflik, namun di sisi lain hal ini memperkaya musik K&P. Saat Sigit setengah mati menerangkan laras pelog maka Ay berpidato tentang legatto.
Taburan ornamen etnik dalam musik K&P tidak membuat mereka mengaku sebagai band etnik. Musik K&P hanyalah gambaran pikiran mereka tentang Indonesian-pop. Kebiasaan membakar dupa sebelum pertunjukan wayang dan tari pun mereka adopsi untuk menciptakan hawa “feels like home”.
“Jika Swedia punya swedish pop, Korea K-pop, Jepang J-pop, maka K&P adalah pikiran kami tentang Indonesian pop. Semoga siapapun yang mendengar bisa segera menangkap bahwa ini pop yang berasal dari Indonesia,” jelas mereka.
Pasangan yang berharap menemukan mesin waktu dan tersesat di Bandung tahun 1920-an ini mengaku menggarap K&P demi kesenangan belaka. Mereka menyebut K&P sebagai state of freedom untuk mencoba hal baru di luar band masing-masing. Sementara covering dilakukan untuk memunculkan kerinduan para pencipta lagu asli agar segera pulang.
Entah cerita apa yang mereka simpan, entah romansa atau teror mencekam, pasangan pengagum Art Deco ini bertutur tentang awal yang berat berliku. Mereka mencurahkan segala upaya demi memberikan yang terbaik agar semua yang teralami tidak sia-sia. Semoga.
Link :
Facebook : / katjiepiering