KOLEKSI MUSEUM MULAWARMAN PART 10

Опубликовано: 23 Август 2026
на канале: Nusantara
21
3

Hudoq adalah ritual tarian bertopeng yang melambangkan do'a permohonan agar mendapatkan hasil pertanian yang melimpah dan terhindar dari hama yang digelar oleh sub-etnis Dayak di provinsi Kalimantan Timur. Tari Hudoq menggunakan topeng dan kostum, oleh sebab itu Hudoq termasuk golongan kesenian tari topeng.

Hudoq artinya menjelma, oleh karena itu memakai topeng burung melambangkan jelmaan burung.

Menurut versi Suku Bahau sub Bahau Busang Hudoq merupakaan jelmaan dari roh (dewa) yang menggunakan topeng agar bisa berhubungan dengan manusia. Menurut orang Bahau Busang manusia tidak bisa melihat langsung roh-roh tersebut, oleh karna itu para roh menggunakan topeng agar bisa berhubungan dengan manusia. Manusia akan parit dalam bahasa bahau yang artinya kualat atau tulah karna melihat roh tersebut secara langsung.

Menurut kepercayaan tradisional orang Bahau yakni kepercayaan Bungan, Hudoq adalah lambang turunnya Para Dewa Dari Apau Lagaan (Apo Lagaan) yang di utus oleh Asung Luhung Inai Ayaq untuk memberikan kesuburan dan kemakmuran bagi masyarakat di Bumi. Dalam festival tersebut Hudoq dilambangkan oleh penari yang mengenakan topeng yang mewakili hama dan rompi yang terbuat dari pinang atau kulit kayu pohon pisang. Tarian selesai ketika dua manusia Hudoq keluar dan mengejar Hudoq hama.

Penari hudoq Bahau dan Modang memakai topeng kayu berukir, gabungan antara citra hama tanaman dan satwa-satwa berbahaya. Seluruh tubuh penari tertutup busana yang terbuat dari kulit pohon, dihiasi rumbai daun pisang, dan ada pula yang menggunakan daun kelapa. Busana dilengkapi dengan topi berbulu dan tongkat kayu yang dipegang di tangan kanan. Tarian ini biasanya dilakukan oleh 11 penari, masing-masing memakai topeng berbeda, digelar di lapangan luas dan terbuka. Para penonton mengelilingi arena pertunjukkan

Gerakan tangan dan kaki mendominasi tari hudoq. Badan penari tegak yang kemudian terus berputar pelan di setiap langkah. Tangan terayun ke atas setinggi bahu, diangkat setinggi-tingginya, lalu dijatuhkan menepuk paha.

Gerakan kaki berupa hentakan: dengan lutut perlahan ditekuk, kaki terangkat hingga 30 sampai 40 cm, kemudian dihentak kuat ke bawah untuk menghasilkan suara keras. Saat mengambil langkah, kaki yang terangkat menyilang di atas kaki tumpuan sehingga badan terayun ke kiri dan ke kanan. Suara hentakan kaki disusul oleh tepukan tangan ke paha membuat busana yang berjumpai itu berbunyi ‘whuss…’. Gerakan kepala tidak teratur, hanya berupa gerakan mengangguk. Jika topeng memiliki mulut yang bisa bergerak, setiap kepala tertunduk mulut topeng akan tertutup dengan berbunyi meletik.

Para penari bergerak dalam lingkaran, yakni bergerak dari satu sudut arena ke sudut arena yang lain sampai empat sudut tersentuh. Kembali ke tengah arena, para penari duduk bersila dalam baris panjang untuk pemanggilan roh, kepala mengangguk-angguk, dan siap jika sewaktu-waktu roh akan merasuki mereka. Saat hal tersebut terjadi, mereka berdiri, tubuh bergetar tanda kesurupan. Kemudian mereka kembali menari seperti semula. Akhirnya mereka kembali ke tengah, badan bergetar lagi, dan merekapun duduk. Itu berarti roh-roh telah meninggalkan tubuh mereka.

Topeng hudoq suku Bahau sub Bahau Busang, yakni:

Hudoq Uling berbentuk atau menyerupai muka manusia dengan bibir tebal dan miring ke atas serta seakan-akan sedang berbicara dan bermata juling.
Hudoq Urug Tingang adalah hudoq menyerupai burung enggang dengan bentuk hidung yang panjang.
Hudoq Urung Bavui menyerupai mulut dan muka babi yang merupakan penjelmaan roh halus berbentuk hewan perusak tanaman.
Hudoq Urung Hooq Waang dilukiskan berbentuk hidung anjing dan ditambah dengan ukiran magaaq atau naga dengan tugas sebagai ajudan ketua hudoq.
Hudoq Urung Magaaq adalah hudoq yang digambarkan dengan bentuk kepala naga dengan banyak ukir-ukiran sehingga terlihat sangat bagus tetapi mengerikan.
Hudoq Urung Inang Berang menggambarkan roman muka roh halus dengan bentuk muka bundar dan mata besar.
Hudoq Urung Kuwau atau Hudoq Rooh digambarkan mirip bentuk wajah seorang perempuan sebagai penjelmaan roh seorang wanita sebagai Ratu.
Hudoq Urung Pakau adalah gambaran dari roh halus dengan bentuk hidung besar dengan ukiran tambahan berupa inang berang.

Pawang, yaitu pemimpin upacara, mulai dengan mengumumkan tujuan upacara, diikuti permohonan agar para roh memasuki para penari. Sesaji dipersiapkan, sementara pawang bememang (mengucapkan) mantra dihadapan para penari Hudoq yang telah berbusana lengkap. Sebelas penari duduk berbaris di tengah arena. Pawang menaburkan beras kuning ke kepala para penari sebagai tanda upacara dimulai. Satu demi satu para penari berdiri dan berjalan pelan sesuai dengan tempo musik.