Kabupaten Magetan (bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦩꦒꦼꦠꦤ꧀ Pegon: ماڮۤتان, translit. Magêtan; pengucapan bahasa Jawa: [maˈgət̪an]) adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kota dari kabupaten ini berada di Kecamatan Magetan. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi di sebelah utara, Kabupaten Madiun di sebelah timur, Kabupaten Ponorogo di sebelah selatan, serta Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri (keduanya termasuk wilayah Provinsi Jawa Tengah) di sebelah barat. Pangkalan Udara Iswahjudi, salah satu pangkalan utama TNI-AU di Provinsi Jawa Timur, terletak di Kecamatan Maospati. Pada tahun 2022, jumlah penduduk Kabupaten Magetan sebanyak 678.343 jiwa.[1]
Magetan dilintasi jalan raya utama Surabaya-Ngawi-Yogyakarta dan jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa, namun jalur tersebut tidak melintasi ibu kota Kabupaten Magetan. Satu-satunya stasiun yang berada di wilayah kabupaten Magetan adalah Stasiun Magetan yang terletak di wilayah Kecamatan Barat.
Gunung Lawu (3.265 m) terdapat di bagian barat Kabupaten Magetan, yakni perbatasan dengan Jawa Tengah. Di daerah pegunungan ini terdapat Telaga Sarangan (1000 mdpl), salah satu tempat wisata andalan kabupaten ini, yang berada di jalur wisata Magetan-Sarangan-Tawangmangu-Karanganyar.
Magetan dikenal karena kerajinan kulit (untuk alas kaki dan tas), anyaman bambu, rengginan, dan produksi jeruk pamelo (jeruk bali), serta kerupuk lempengnya yang terbuat dari nasi.
Etimologi
Asal-usul nama Magetan tampaknya sangat mungkin berkaitan dengan "Pamagetan". Dalam hal ini, Pigeaud berpendapat sebagai berikut:[4]
"Kamagetan atau Magetan tampaknya dapat dikaitkan dengan kata kuno pameget. Dalam bahasa Jawa Kuno, kamagetan mungkin memiliki arti 'perumahan (dalem) yang besar'. [...] Bahwa Magetan, seperti semua lereng Gunung Lawu yang lain, merupakan pusat kebudayaan pada zaman kuno dapat dibuktikan dengan adanya candi dan peninggalan lain."
Ada satu hal yang mengganjal Pigeaud. Pada lereng Gunung Lawu yang menjadi wilayah Magetan tersebut tidak ditemukan suatu peninggalan yang besar dan monumental setelah kejatuhan Majapahit. Namun demikian, mungkin daerah sekitar Desa Sadon dahulunya adalah sebuah permukiman. Daerah ini diduga merupakan bekas kediaman pertapa pada zaman Hindu-Jawa. Kediaman ini mungkin berasal dari abad ke-11 dan ditinggalkan atau lenyap pada abad ke-16.[5]
*Disclaimer : this video may contains part of other video that is uploaded to Youtube therefore it is courtesy of Youtube and as a Youtube partner, i am allowed to use part of other video content courtesy of Youtube under derivative and educational purpose. To learn more about this go to https://www.youtube.com/yt/copyright/...