Konflik Israel dan Palestina sudah berjalan sejak lama, hal ini terjadi karena perebutan wilayah sebagai tempat tinggal mereka. Konflik awal Palestina dan Israel terjadi seletah Perang Dunia I. Saat itu Inggris sebagai pemenang Perang Dunia I memberikan wilayah kekuasaan pada bangsa Yahudi melalui Deklarasi Balfour pada 1917. Dengan perjanjian tersebut, Yahudi menganggap kawasan Palestina menjadi tanah airnya. Di sisi lain, masyarakat Islam Palestina menganggap bahwa Inggris memaksakan pendirian negara Yahudi di kawasan Palestina. Di mana hal tersebut bertentangan dengan keinginan masyarakat Palestina.
Puncak imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina dikarenakan peristiwa Holocaust dalam Perang Dunia II. Holocaust merupakan genosida kira-kira enam juta penganut Yaudi di Eropa yang dilakukan oleh Nazi Jerman.
Kekejaman Nazi Jerman pimpinan Hitler ini membuat semakin banyak warga Yahudi ingin meninggalkan Eropa ke Palestina. Namun, imigrasi tersebut terhalang dengan kebijakan Inggris yang beberapa bulan sebelum perang dunia II menerbitkan White Paper 1939. Dalam dokumen tersebut berisi, imigrasi Yahudi ke Palestina dibatasi hanya 75 ribu orang sampai tahun 1944. Di mana hanya ada 10 ribu imigran per tahun atau 25 ribu orang jika terjadi kondisi darurat.
Karena kebijakan kolonial serta anacaman pemusnahan massal tersebut, organisasi Yahudi melakukan imigrasi ilegal. Percobaan tersebut ternyata berhasil digagalkan Inggris yang menempatkan delapan kapal perang untuk memblokade perairan sekitar Palestina. Para imigran yang gagal masuk Palestina itu kemudian dibawa dan ditahan di kamp pengungsi di Siprus. Beberapa ribu lainnya ditahan di Palestina dan Mauritius. Situasi tersebut membangkitkan perlawanan kelompok bersenjata Yahudi di Palestina dengan menebar teror.
Aksi teror tersebut dilakukan kelompok sayap kanan Zionis, Irgun. Kondisi yang semakin buruk tersebut mendorong beberapa negara mendesak Ingris untuk segera membuka jalur imigrasi Yahudi. Pada 20 April 1946, Komite Gabungan Inggris-AS bentukan PBB merekomendasikan 100 ribu orang Yahudi untuk migrasi ke Palestina. Hal tersebut ternyata ditolak oleh pemerintah Arab. Merasa sudah tidak mampu mengatasi keadaan di Palestina, Inggris memberikan mandat pengelolaan Palestina kepada PBB pada 14 Mei 1948.
Tahun 1948 para pemimpin Yahudi mendeklarasikan terbentuknya negara Israel.
Perang Israel-Arab
Pada 14 Mei 1948, sehari sebelum Mandat Inggris atas Palestina berakhir, komunitas Yahudi di Palestina mendeklarasikan berdirinya negara Israel di depan 259 undangan di Museum Tel Aviv. Setelah Deklarasi Kemerdekaan Israel 14 Mei 1948, hari sebelumnya pasukan ekspedisi Mesir, Transyordania, Suriah, dan Irak semuanya memasuki Palestina pada waktu yang bersamaan. Setelah menguasai distrik-distrik Arab, pasukan penyerang melancarkan serangan terhadap
Perang Salib adalah salah satu pertempuran paling besar yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. Perang Salib terjadi pada abad pertengahan dan melibatkan kekuatan Eropa melawan kekuatan muslim. Gereja Katolik Roma menjadi pihak yang mendukung, dan mengarahkan terjadinya kampanye militer selama hampir dua abad. Tujuan utama Perang Salib adalah untuk merebut Yerusalem dan Tanah Suci ( yang sekarang Palestina, Israel, sebagian Lebanon dan Yordania dari tangan umat Islam. Selain itu, perang ini juga disebabkan oleh beberapa faktor lain, seperti agama, politik, dan sosial-ekonomi.
Pertempuran ini disebut Perang Salib karena ekspedisi militer dari Eropa menggunakan tanda salib pada bahu, lencana, ataupun panji-panji mereka sebagai simbol yang menunjukkan bahwa peperangan yang dilakukan adalah perang suci. Perang Salib berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaisans.
Palestina berada di bawah kendali umat muslim sejak kekalahan Bizantium pada 636 M. Sejak saat itu, hubungan antara negara-negara Arab dengan Kristen Eropa mengalami pasang surut. Pada 1072, Palestina jatuh ke tangan Kekaisaran Seljuk Raya yang saat itu sedang mengalami perkembangan pesat.
Sebenarnya, umat muslim dan Kristen dapat hidup berdampingan. Akan tetapi kondisi di daerah perbatasan kurang bersahabat bagi para pedagang dan peziarah Katolik. Hal inilah yang kemudian memicu lahirnya dukungan terhadap Perang Salib.
Secara umum, berikut ini beberapa penyebab pecahnya Perang Salib antara 1095-1291.
Masyarakat Kristen kehilangan kebebasan dan keamanan untuk beribadah di tanah suci Yerussalem.
Dinasti Seljuk menerapkan kebijkan yang membatasi umat Kristiani yang akan beribadah di Yerusalem. Dinasti Seljuk menguasai wilayah-wilayah penting di Asia Kecil dan mengancam eksistensi Konstantinopel.
Adanya keinginan dari Bizantium Romawi Timur untuk mempertahankan penguasaan ekonomi perdagangan di Timur Tengah.
#politik #agama #sosial #indonesia #mahfudmd #jokowi #ganjarpranowo #aniesbaswedan #megawati #pdiperjuangan #pdip