Bapak Iman Nugraha, salah satu dari sekian banyak penerima manfaat yang kisahnya pantas untuk kita jadikan sebagai pembelajaran hidup.
Hidup bertiga, bersama istri dan anak semata wayangnya yang saat ini kerja sebagai buruh pabrik.
Pak Iman sampai detik ini pun masih terus berusaha, mengayuhkan kaki nya berkilo-kilo jauhnya.
Untuk mendapatkan secercah uang untuk menghidupi keluarganya. Menjadi guru ngaji, tukang pijit keliling, sekaligus penjual tisu adalah mata pencahariannya yang tak pernah padam oleh waktu.
Alloh Ta'ala memberikannya kelebihan menjadi tunanetra, tapi dari hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk dirinya agar tetap terus dekat dengan Al Qur’an.
Disaat matanya tertutup oleh pandangan hitam pekat, namun mata hatinya tidak pernah terpejam sedetik pun untuk membaca, mengkaji, dan menghafal Al Qur’an.
Dengan bantuan AL Qur’an Braille dari Pondok Sedekah, pak Iman terus bersemangat dalam menghafal Al Qur’an.
Pondok Sedekah pun memberikan bantuan hidup berupa dana untuk menghidupi keluarganya.
Diharapkan bantuan tersebut bisa membantu perekonomian keluarga pak Iman, sekaligus menjadi modal untuk melakukan usaha nya, berjualan tisu keliling.
“Saya berjualan hampir setiap hari dimulai dari pukul 04.00 sampai dengan 10.00, mas! Biasanya juga saya jualan di daerah kota (Jakarta bagian pusat), biasaya disana laku banget. Soalnya emang udah menjadi langganan sendiri sih. Ya walaupun jauh, saya senang bisa ketemu banyak orang dan orang-orang baru. Cape sih iya, tapi bisa terobati dengan jalan jalan begini mas!” tutur pak Iman kepada mas Bintang dari Pondok Sedekah.
Perjuangan Pak Iman dalam meniti hidupnya pun perlu diacungi jempol.