WS Rendra ditangkap karena berpuisi di Taman Ismail Marzuki pada 1977. Puisinya dianggap menganggu stabilitas pemerintahan Orde Baru.
Rendra kemudian mengabadikan suasana yang dialaminya itu lewat puisi Paman Doblang (1984). Lalu puisi ini dinyanyikan Kantata pada 1990.
Tanya jawab dengan Paman Doblang itu mengingatkan pada bait ke-8, tembang Sinom dari serat Kalatidha karya pujangga agung Ranggawarsita:
Yang demikian itu seperti orang,
yang sangat kepengin (jabatan).
Bukankah begitu Paman Doblang?
Benar yang mengatakan demikian,
tetapi dalam hati,
sebenarnya keinginan itu belum seberapa.
Sudah tua akan berbuat apa.
Lebih baik hanya fokus dalam kesepian,
agar mendapat ampunan Yang Maha Suci.
(Semono iku bebasan,
Padu-padune kepengin,
Enggih mekaten man Doblang,
Bener ingkang angarani,
Nanging sajroning batin,
Sejatine nyamut-nyamut,
Wis tuwa arep apa,
Muhung mahas ing asepi,
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma).