Jalan Ijen Boulevard Kota Malang menjadi jalan utama yang kaya akan jejak sejarah dan arsitektur Belanda. Jalan yang dilalui ratusan kendaraan setiap harinya ini telah dibangun sejak Indonesia belum merdeka.
Jalan Ijen yang dalam ejaan lama dikenal sebagai Jalan Ijen ini terletak di dekat pusat kota. Lokasinya yang berbatasan dengan Jalan Semeru, Jalan Kawi dan beberapa ruas jalan utama di Kota Malang lainnya menjadikan jalan ini tak pernah sepi.
Dibangun di era hindia Belanda, Jalan Ijen didesain sebagai kawasan elit bagi pejabat dan pengusaha di masa pemerintahan Hindia Belanda. Tak hanya boulevard saja, bangunan-bangunan di sekitarnya pun punya vibe kuno dan cantik ala Eropa.
Sejarah Jalan Ijen Boulevard Kota Malang dan Kisah Pengembangan Rumah Elit Belanda
Pembangunan Jalan besar Ijen dimulai tahun 1935 dan berlangsung hingga tahun 1960. Jalan Ijen dibangun dalam dua tahap utama, yaitu dari Perempatan Bareng ke Gereja Katedral dan dari Gereja Katedral ke Perempatan Lonceng di Jalan Bandung.
Asal mula Jalan Ijen Boulevard Kota Malang berawal dari serangkaian rencana besar pemerintah pada tahun 1917 hingga 1929, yang dikenal dengan nama Bouwplan. Terdapat 8 tahap atau 8 Bouwplan yang dirancang oleh insinyur ternama kala itu, Herman Thomas Karsten.
Handinoto dan Soehargo (1996) dalam bukunya yang berjudul “Rencana Pengembangan Kota Malang Tahun 1917–1929” mengungkap bagaimana perkembangan kota dan arsitektur kolonial Belanda di Malang lewat Bouwplan I–VIII.
Pada masa itu, Kota Malang memang sedang berkembang pesat. Tapi pertumbuhannya cenderung membentuk pola memanjang, menjauhi pusat kota seperti dari Alun-alun, Kayutangan, hingga Lowokwaru.
Pemerintah hindia pun khawatir kalau pola ini terus dibiarkan, kota akan kehilangan keseimbangannya. Maka muncullah ide untuk memperluas wilayah dengan mengendalikan arah perkembangan kota.
Salah satu rencana besar itu adalah Bouwplan V, yang kemudian melahirkan kawasan Ijen Boulevard. Pada awalnya, pemerintah merasa bahwa perumahan bagi golongan Eropa di kawasan Tjelaket–Lowokwaru sudah tidak memadai.
Oleh karena itu, mereka memilih untuk memperluas area ke sebelah barat dari jalan utama kota saat itu, yaitu Jalan Kayutangan. Kawasan ini disebut Bergenbuurt, yang berarti “daerah gunung-gunung,” karena nama-nama jalan di sini diambil dari gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa.
Selain ditanami pohon palem dan taman, di kawasan Jalan Ijen Kota Malang juga dibangun rumah-rumah kaum elit Belanda dengan sederet fasilitas-fasilitas yang luar biasa lengkap untuk ukuran zamannya. Seperti stadion, lapangan tenis, lapangan sepak bola, hingga kolam renang.
Jalan utamanya, yang kita kenal sekarang sebagai Ijen Boulevard, didesain untuk menghubungkan beberapa titik penting di kota. Mulai dari stasiun kereta api hingga ke arah barat, menuju Smeroe Park, yang memberikan pemandangan indah Gunung Kawi di kejauhan.
Tata kota melalui pembangunan Jalan Ijen Boulevard Kota Malang diprakarsai oleh arsitek Belanda terkenal, Ir. Herman Thomas Karsten.
Jalan ini dirancang sebagai kawasan elit bagi para pejabat dan pengusaha Belanda pada masa itu. Rencana perkembangan kota Malang dan pengembangan wilayah Ijen Boulevard sendiri disebut sebagai salah satu perencanaan kota terbaik di Hindia Belanda pada waktu itu.
Sang arsitek, Karsten, merancang Jalan Ijen dengan konsep boulevard, atau jalan kembar yang dipisahkan oleh taman di tengahnya, dan pohon palem di sepanjang sisi jalannya.
Selain diperhitungkan dari sisi estetika dan kemewahan, desain landscape jalan raya ini telah diperhitungkan dengan saksama, seperti komplek bangunan, pedestrian, jalan, maupun median jalannya.
Dahulu, ia dirancang sebagai kawasan pengembangan terpadu antara taman olahraga dan perumahan berkonsep arsitektur kolonial. Hal ini membuat Jalan Ijen Boulevard jadi salah satu peninggalan bersejarah dari masa penjajahan yang masih ada hingga sekarang.
Jangan Lupa Subscribe, Like, Comment, and Share video ini, agar dapat keseruan pada video selajutnya. thanks you