Filsafat Yunani Kuno 2: Kaum Sofis dan Sokrates |

Опубликовано: 03 Сентябрь 2026
на канале: Angga Trio Sanjaya
323
9

KAUM SOFIS DAN SOKRATES


Di pembahasan sebelumnya mengenai filsafat Pra-Sokratis, saya telah memberi instrodusir bahwa kaum Sofis hidup bersamaan dengan Sokrates. Dengan demikian, memang ada kesamaan pendapat di antara keduanya. Menurut Cicero (seorang ahli retorika dalam sejarah Romawi), Sokrates memindahkan filsafat dari langit ke bumi, artinya: sasaran yang diselidiki bukan lagi jagat raya, melainkan manusia. Akan tetapi bukan hanya Sokrates yang berbuat demikian, kaum Sofis juga. Mereka juga menjadikan manusia menjadi sasaran pemikiran mereka. Itulah sebabnya Aristophanes menyebut Sokrates seorang sofis. Sekalipun demikian ada perbedaan yang besar antara Sokrates dan kaum Sofis. Sebab di sinilah titik tolaknya, filsafat Sokrates adalah suatu reaksi dan suatu kritik terhadap pemikiran kaum Sofis.


SOFISME sebenarnya bukan suatu mashab, melainkan suatu aliran, suatu gerakan dalam bidang intelek pada abad kelima SM, selama "Zaman Keemasan" sastra Yunani. 

Sebutan "sofis” mengalami perkembangan sendiri. Sebelum abad ke 5 istilah ‘sofis’ dipersepsi secara positif, yakni bermakna sarjana, cendekiawan. Umpamanya Pythagoras, ketujuh orang bijak yang pernah disebutkan Plato, semuanya disebut sofis. Pada abad ke-4 para sarjana atau cendekiawan bukan lagi disebut "sofis", tetapi "filosofos", filsuf, sedang sebutan "sofis" dikenakan kepada para guru yang berkeliling dari kota ke kota untuk mengajar. Akhirnya sebutan "sofis” menjadi suatu sebutan yang tidak harum lagi, karena seorang sofis adalah "orang yang menipu orang lain dengan memakai alasan-alasan yang tidak sah.”


Hari ini ketika kita menggambarkan seseorang sebagai seorang sofis, yang kita maksudkan adalah dia menggunakan penalaran yang salah, argumen yang tidak valid, untuk menghadapi kasusnya. "Sofis" bagi kita adalah istilah pelecehan. Exampelnya di era modern, Sebut saja misalnya ketika Rocky Gerung direpresentasikan sebagai bentuk kaum sofis modern. Sebutan sofis tersebut terasa tendensius dan cenderung bersifat  mockery. Dalam tulisan di Kumparan februari 2019, saat itu, di tengah melambungnya nama Rocky, ada sejumlah orang yang mempertanyakan klaim-klaim Rocky. Mereka merupakan sejumlah akademisi filsafat lintas kampus. Pertanyaan itu kemudian dimaterialisasikan ke dalam sebuah diskusi bertajuk ‘‘Menolak Pembusukan Filsafat’ yang digelar di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (14/2).


Sampai di sini jelas kiranya, pandangan ini menunjukkan adanya ambivalensi dalam menafsirkan kaum sofis baik dalam kerangka historis maupun era modern. Saya nanti akan menunjukkan adanya persepsi yang cukup distingtif, terutama ketika kita berpijak pada dokumenasi Plato dalam The Republik.


Sebetulnya, kata ‘sofis’ itu sendiri, bagaimanapun, secara harfiah berarti "orang bijak", dan menurut catatan William J Prior dalam An Introduction to Ancient Greek Ethics, judul babnya The Sophists And Socrates, Protagoras, yang terbesar dari kelompok ini, tidak malu menyebut dirinya seorang Sofis. Kaum Sofis adalah kelompok orang yang beragam, dan berbahaya untuk membuat generalisasi menyeluruh tentang pandangan mereka. Mereka melakukan perjalanan dari kota ke kota di Yunani, menawarkan pengajaran dengan biaya tertentu. Apa yang mereka ajarkan bervariasi; beberapa menawarkan instruksi dalam matematika dan astronomi, sedangkan yang lain mengajar kursus tentang arti kata-kata. Namun, mereka paling dikenal karena mengajarkan retorika, seni berbicara di depan umum, dan seni terkait kepemimpinan politik. Di sebagian besar kota Yunani pada saat itu, dan khususnya di negara demokrasi seperti Athena, keunggulan manusia (kebajikan) terkait erat dengan kepemimpinan politik. Untuk menjadi pemimpin politik, seseorang harus pandai berbicara di depan umum, untuk meyakinkan warga bahwa pandangan dan kebijakan politiknya benar. Jadi, banyak orang menginginkan apa yang dijual kaum Sofis.


Terkait hal itu, PAUL WOODRUFF dalam Rhetoric and relativism: Protagoras and Gorgias, secara tendensius mengatakan, kata sophistes dalam penggunaannya yang paling awal merujuk pada orang bijak seperti penyair, dan masih muncul pada abad ke-4 SM, sebagai istilah umum untuk para filsuf dan orator. Di bawah pengaruh Plato, bagaimanapun, kata itu menjadi memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dan asosiasi khusus dengan retorika dan relativisme. Ini menyesatkan, karena di antara mata pelajaran yang diajarkan oleh para sofis adalah pidato, etika, teori politik, hukum, sejarah, mnemonik, sastra, matematika, dan astronomi. Beberapa sofis juga berurusan dengan metafisika dan epistemologi. Yang lain mengejar minat antropologis dalam asal usul budaya manusia, yang (berlawanan dengan mitologi sebelumnya) mereka kaitkan dengan penemuan manusia. Pesan kaum sofis bahwa kemajuan datang melalui perkembangan teknologi dan politik memajukan klaim jujur mereka yang mementingkan diri sendiri bahwa pendidikan adalah salah satu barang publik terbesar.