Kiyai Ali badri: Menjual Nasab Adalah Pecundang! | Tes DNA Habaib Ba'alwi - Nasab Palsu Habaib

Опубликовано: 08 Июль 2026
на канале: Ummatina
10,194
86

Tulisan ini adalah serial esai KH Ali Badri berjudul, "Menyikapi Konflik Habaib dan Keluarga Walisongo" (bagian 2) yang dimuat pada 7 Mei 2023 di duta islam dot com.

Menjual Nasab Adalah Pecundang!

Oleh KH Ali Badri

Tulisan ini adalah sambungan dari esai pertama berjudul, Akibat Ba'alawi Tidak Adil Kepada Dzurriyah Walisongo. Lihat di video sebelumya.

Ok, lanjut yang ketiga.

Ketiga, sejak awal saya hanya memperjuangkan nasab Walisongo ke Bawah. Penelitian saya yang memakan banyak waktu dan tenaga hanya untuk memastikan keabsahan nasab keturunan Walisongo hingga Walisongo atau Syekh Jumadil Kubro saja, karena nasab dari Walisongo ke atas sudah ada dalam cacatan buku nasab R A (Robitoh Alawiyah).

Saya keliling Indonesia, Malaysia, Thailand, Philiphina dan Saudi untuk mencari data keturunan Syekh Jumadil Kubro. Enam tahun saya fokus pada perjuangan ini dan meninggalkan kegiatan lain, hingga sayapun jatuh miskin karena tidak sempat mencari nafkah. Padahal sebelum itu (2005-2006), saya adalah penceramah terkenal di Cirebon dan hidup berkecukupan.

Saya bersyukur karena istri saya bersabar dengan keadaan ekonomi seperti itu, ditambah lagi dia juga mendapat cacian dari keluarga jauhnya; istri saya disebut syarifah bid'ah karena mau menikah dengan saya, bahkan ada yang mengira bahwa istri saya itu mau menikah dengan saya karena saya kaya raya. Padahal sejak dulu sampai sekarang saya hanya kaya hati saja (he he he....).

Nah, ketika beberapa tahun terakhir ini ditemukan data nasab Walisongo versi selain Azmatkhan Baalawi, keluarga Walisongo mulai "terpecah", ada yang bertahan dengan Azmatkhan dan ada yang memilih versi lain. Sejak awal mencuatnya versi selain Azmatkhan itu, saya hampir tidak pernah mengajukan pendapat, kecuali hanya menyarankan agar diteliti dengan ketat.

Sejak saat itu di kalangan keluarga Walisongo sendiri mulai ada 'keributan" di medsos, sayapun mengintruksikan agar anggota resmi lembaga saya yang masih menggunakan versi Azmatkhan supaya tidak terlibat dalam perdebatan di medsos, mereka pun mendengarkan intruksi saya.

Namun rupanya yang di medsos itu lebih banyak yang bukan anggota lembaga saya, sehingga keluarga Walisongo banyak yang ribut di medsos mendebatkan versi Azmatkhan dan selain Azmatkhan, bahkan sampai keluar ucapan kotor, saya sampai curiga ada pihak yang sengaja mengadu domba keluarga Walisongo.

Hal ini membuat saya semakin menutup rapat publikasi lembaga saya yang memang telah saya vakumkan sejak tahun 2011. Awalnya saya vakumkan karena banyak masalah. Saya tidak bisa mengendalikan sebagian anggota yang suka melanggar visi-misi lembaga, misalnya ada yang mengaku ahli kasyaf, ada yang ingin dipanggil habib, bahkan ada yang mau memanfaatkan lembaga untuk politik dan lain-lain. Sejak vakum itulah kemudian muncul perhimpunan-perhimpunan baru dan saya tidak terlibat dengan yang baru-baru itu.

Seperti yang saya katakan tadi, dari awal saya hanya fokus pada penelitian keturunan Walisongo. Saya tidak pernah meneliti nasab Walisongo ke atas karena sudah jelas tercatat di R A. Saya merasa cukup percaya pada R A., Nah, kalau kemudian dikatakan bahwa nasab Walisongo ada banyak versi dan belum bisa disahkan, maka saya sama sekali tidak keberatan, karena selama ini saya memang bergantung pada R A.

Hanya saja, yang harus dipahami oleh masyarakat Indonesia adalah, bahwa nasab keturunan Walisongo yang sudah terdata itu status keabsahannya lebih kuat daripada nasab Walisongo ke atas. Dengan kata lain, saya tidak terlalu keberatan kalau nasab Walisongo ke atas dibilang meragukan, namun kalau Walisongo dibilang tidak punya keturunan yang bisa disahkan nasabnya dari garis laki-laki, maka hadapi saya dengan bertaruh! Saya sudah kapok kalau hanya berdebat tanpa ada yang dipertaruhkan!

Keempat, akhir-akhir ini ramai juga orang membicarakan soal DNA. Saya sendiri baru paham kronologi DNA ini. Katanya, berawal dari penelitian genetika dari berbagai ras dan bangsa sedunia, kemudian dari hampir 1.000 asyraf di negara-negara Arab yang telah tes DNA ditemukanlah kesamaan kode yang kemudian itu disepakati sebagai kode alawiyyin (keturunan Sayyidina Ali), bahkan ada kode yang hanya dimiliki Hasaniyyin dan ada kode yang hanya dimiliki oleh Husainiyyin.

Sejak awal saya tidak paham bagaimana proses DNA itu, sehingga saya tidak mendukung tes DNA sebagai bukti validitas catatan nasab. Saya pun dianggap kolot serta tidak mau mengikuti perkembangan sains dan teknologi, hingga akhirnya saya melakukan tes DNA, tapi dengan catatan, hasil tes DNA saya harus dibaca dan disimpulkan oleh pakar-pakar DNA terkenal. Tidak cukup oleh pemula di bidang DNA.

Kini hasil tes DNA saya sedang dibuat laporannya untuk diajukan pada para pakar DNA, nanti mereka juga bisa mengecek langsung data DNA saya di laboratorium perusahaan Familytree, sebuah rumah sakit di Texas Amerika yang, -- katanya -- paling terpercaya dalam hal DNA.