Video Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi Tuduh Rasis Penelitian Nasab KH Imadudin Terbaru. Ahmad Fahrur Rozi salah satu ketua PBNU tanpa bukti menuduh rasis kepada KH Imadudin al-Bantani.
Seperti diketahui hampir setahun ini penelitian nasab palsu Habaib yang dilakukan Kiyai Imad sudah beredar luas. Sayangnya salah satu ketua PBNU Ahmad Farur Rozi menuduh rasis kepada Kiyai Imadudin. Semua tuduhan rasis ke Kiyai Imad tersebut tanpa disertai bukti hanya sebatas asumsi Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi.
Berikut ini sebagian kutipan dari tulisan asli dari ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi:
Stop Rasisme Nasab
Oleh Doktor Haji Ahmad Fahrur Rozi
Pagi ini, hari Ahad 7 Januari 2024. Saya menemani Waketum PBNU KH Zulfa Musthofa menghadiri haul Allahu yarham Alhabib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dan Almuhaddis Almusnid Profesor Doktor Abdullah bilfaqih, dua guru besar Pendiri pesantren Darul hadist alfaqihiyyah Malang.
Sejak jam 6 pagi saya melihat jalanan dalam kota malang sudah sangat ramai, kendaraan sudah di stop jauh dari lokasi karena padatnya puluhan ribu pengunjung haul yang berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia bahkan dari Yaman dan Malaysia.
Pemandangan sejuk harmoni antara para habaib dan kyai terlihat dekat dan sangat hangat, ratusan habaib dan kyai besar terkenal semua duduk sejajar bersila tanpa jarak mendengarkan pidato mauidlatul hasanah yang disampaikan dua kyai NU Jawa asli: KH Abdul Qoyyum Lasem dan KH Zulfa Musthofa, saya merasa polemik nasab yang dimunculkan dalam setahun terakhir ini seperti tidak ada efeknya sama sekali, haul malang ini masih sangat ramai dijubeli puluhan ribu ummat berbagai lapisan masyarakat.
Polemik nasab berkepanjangan dalam setahun terakhir ini sungguh membuat saya prihatin, Banyak orang awam yang terpengaruh oleh opini rasis berbalut hasil penelitian ilmiah itu dan terus terprovokasi konten buzzer yang memuntahkan aneka comment caci maki yang tak pantas untuk ditulis ulang di sini. Serangan beringas dan intensif ini di media sosial menyemesta. Setiap habaib Bani alawi secara umum digeneralisir buruk dan menjadi sasaran genosida opini ini, padahal banyak sekali dari mereka yang saya kenal adalah pribadi yang tawadlu, alim dan Sholih.
Saya sudah membaca tulisan pak Imad dan saya sudah baca sumber aslinya, ternyata ketika mengutip dan menginterpretasikan teks dan makna kitab banyak yang dipotong, terjadi kesalahan analisa dalam proses berpikir yang dilakukan oleh KH Imad. Mengapa demikian? karena pak Imad sering mengambil kesimpulan yang tidak sesuai dengan kitab yang dijadikan rujukan.
Bagaimana bisa pak Imad menyimpulkan bahwa Ubaidillah dan Alawi tidak pernah ditemukan sebagai anak dan cucu Ahmad bin Isa dengan bersandar pada kitab yang memang tidak sedang membahas anak-anak Ahmad bin Isa.
Pak Imad dkk nampak sangat bernafsu menggugurkan nasab Imam Ubaidillah, bahkan dengan menggunakan kitab-kitab yang tidak relevan dan asal comot saja asalkan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Sebagai peneliti saya yakin dia tidak melakukan wawancara mendalam dengan masyarakat Yaman dan tidak melakukan pembuktian situs ke berbagai lokasi sejarah atau melakukan triangle data, saya curiga dia hanya duduk di belakang meja bermodal laptop, kitab dan Google saja. Makanya tidak heran kalau tidak ada sambutan ulama baik nasional atau internasional terhadap issue nasab itu, saya sudah bertanya kepada banyak kolega saya ulama di timur tengah tentang tesis pembatalan nasab bani Alawi itu, mereka heran dan mentertawakannya. Pembatalan nasab itu di dianggap lelucon dan omongan kosong belaka.
Saya pribadi menolak teori pak Imad tentang wajibnya catatan kitab sezaman, karena itu teori dia ngarang sendiri. ulama sepanjang sejarah telah sepakat mempercayai nasab Bani Alawi, para peneliti ahli nasab dalam ratusan tahun di zaman selanjutnya dan keturunan keluarga beliau yang mencatat nasab keluarganya, jelas mengitsbat nasab beliau bani alawi. Di sisi lain, tidak ada satu ahli nasab pun yang menafikan nasab Ba' Alawi. Semuanya ulama yg ada dari semua zaman dari kalangan ahli nasab sepakat mengitsbat nasab Bani Alawi, hanyalah Mujtahid nasab dari Banten yang lahir di abad ini yg didukung nassabah bermodal blogspot ngotot akan membatalkan, bagaimana saya bisa percaya?
Kalau mau bersikeras memakai standar kitab sezaman maka nasabnya Syaikh Abdul Qadir Jailani pun jadi batal. Dalam kitab syaikh Al-Fakhr Al-Razi yang hidup tidak lama setelah Syekh Abdul-Qodir Al-Jailani juga tidak menyebutkan nama dan nasab Syekh Abdul-Qodir Al-Jailani, juga ayahnya bahkan kakeknya Imam Al-Marwazi, ahli nasab setelahnya juga tak menyebutnya.
Malang , 7 Januari 2024