Covid-19 secara resmi diumumkan sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Penyakit mematikan ini menyebar begitu cepat ke seluruh dunia sehingga tidak dapat dibendung dengan langkah-langkah yang tepat. Itu adalah awal dari dua tahun situasi darurat.
Bagi banyak orang, ini terasa seperti situasi dalam film bencana. Dokumenter ini menggambarkan bagaimana sejumlah orang di seluruh Eropa menghadapi krisis tersebut. Pada awalnya, dunia dilanda ketakutan akan virus yang belum dikenal ini yang menyebar melalui udara yang kita hirup. Di negara-negara seperti Italia, jumlah kematian meningkat begitu cepat sehingga tenaga medis dan pengurus jenazah kewalahan.
Publik memberikan simpati dan dukungan. Setiap malam, orang-orang keluar ke balkon untuk memberikan apresisasi kepada upaya tenaga medis rumah sakit. Mereka bertepuk tangan untuk pekerja kesehatan seperti Carlo Mosca, seorang dokter di Brescia, Italia, yang menghabiskan beberapa bulan pertama pandemi di rumah sakit hampir tanpa henti, merawat pasien-pasien yang banyak di antaranya meninggal sendirian karena aturan jaga jarak sosial melarang kunjungan. Carlo Mosca tidak bertemu keluarganya selama berbulan-bulan agar tidak menularkan virus.
Ketika gelombang pertama virus mereda, pemerintah di seluruh Eropa kembali melonggarkan pembatasan. Setelah jeda singkat, gelombang lanjutan dan pembatasan kembali diterapkan, namun saat itu orang-orang mulai terbiasa dengan perubahan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Namun situasi berbalik drastis bagi Carlo Mosca. Ia ditangkap pada Januari 2021 dan dituduh membunuh dua pasien virus corona untuk membebaskan tempat tidur rumah sakit. Carlo Mosca harus menjalani tahanan rumah selama proses persidangan—sementara di luar, kehidupan tampak kembali normal.
Saat itu, ada perasaan lega secara umum — tetapi itu hanya berlangsung singkat. Jumlah infeksi meningkat lagi pada musim gugur. Banyak negara, termasuk Prancis, kembali menerapkan lockdown. Film ini mengikuti Aurélie Rhumeur yang bersama suaminya Yves Chuop berusaha mempertahankan apotek mereka di Paris tetap beroperasi. Mereka mengajar sendiri putrinya, Cassandre, di rumah, dan memberikan dukungan emosional sambil mengendalikan ketakutan mereka sendiri. Seperti halnya semua protagonis dalam dokumenter ini, Aurélie merekam dirinya sendiri dan menceritakan tentang kehidupan keluarga yang perlahan-lahan hancur akibat isolasi dan ketidakpastian tentang berapa lama keadaan darurat ini akan berlangsung.
Ketika pandemi memasuki tahun kedua, tidak ada lagi tepuk tangan. Ekspresi solidaritas digantikan oleh rasa frustrasi dan kemarahan. Banyak orang di Eropa turun ke jalan dalam protes anti-pemerintah, seiring dengan tersebarnya mitos konspirasi. Emosi memuncak dan sedikit mereda dengan perkembangan vaksin virus corona. Orang-orang mulai mempertanyakan kebijakan ketat untuk upaya perlindungan dari virus mematikan ini. Apakah harga yang mereka bayar terlalu tinggi? #dwdocs
______
DW Dokumenter memberimu wawasan lebih dari hal yang biasa diberitakan. Di sini kamu bisa menonton film dokumenter terbaik yang diproduksi lembaga penyiaran publik Jerman dan rumah produksi bertaraf internasional. Kamu akan menemui banyak sosok yang membuat penasaran, mengenali rumitnya keseharian hidup, menjelajahi tempat-tempat terjauh dan mendalami isu terkini dan peristiwa global. Ayo subscribe dan jelajah dunia bersama kami di DW Dokumenter.
Dokumenter ini juga bisa kamu ikuti di:
⮞ DW Documentary (English): @DWDocumentary
⮞ DW Documental (Spanish): @DWDocumental
⮞ DW Documentary وثائقية دي دبليو (Arabic): @dwdocarabia
⮞ DW Doku (German): @dwdoku
⮞ DW Documentary हिन्दी (Hindi): @dwdochindi
----
Ikuti DW Documentary di Instragram: / dwdocumentary
dan di Facebook: / dwdocumental
Mohon untuk membaca dan mengikuti kebijakan Netiket DW di kanal kami: https://p.dw.com/p/OBpw