Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri lahir pada tanggal 3 Juli 1926 adalah adalah salah satu pemimpin upaya kudeta tahun 1965 di Indonesia yang dikenal sebagai Gerakan 30 September. Untung adalah mantan anak buah Soeharto ketika ia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo.
Untung Syamsuri lahir di Desa Sruni, Kedung Bajul, Kebumen, Jawa Tengah. Untung Sutopo bin Syamsuri pindah dari Kebumen ke Desa Jayengan, Solo, pada tahun 1937 atau pada saat usianya 10 tahun.
Nama kecilnya adalah Kusmindar alias Kusman. Ayahnya bernama Abdullah dan bekerja di sebuah toko peralatan batik di Pasar Kliwon, Solo. Namun Orang tuanya berpisah Sejak kecil. Kemurian Kusman kecil diangkat anak oleh pamannya yang bernama Syamsuri yang merupakan adik Kandung Ayahnya.
Kusman masuk sekolah dasar di Ketelan. Setelah lulus sekolah dasar, Kusman melanjutkan ke sekolah dagang namun tidak sampai selesai karena Jepang mulai masuk ke Indonesia dan Pada 1943, saat Kusman berusia 18 tahun kemudian bergabung ke dalam Heiho atau tentara pembantu, pasukan ini terdiri dari bangsa Indonesia yang dibentuk oleh tentara Jepang
Selang dua tahun Jepang kalah melawan Sekutu dalam Perang Dunia II. Untung kemudian bergabung dengan Batalion Sudigdo yang bermarkas di Wonogiri, Jawa Tengah.
Kemudian Pada 1947 Batalyon Sudigdo yang berada di bawah Divisi Panembahan Senopati berhasil ditarik menjadi pendukung Partai Komunis Indonesia.
Kala itu Menteri Pertahanan dijabat salah seorang tokoh PKI yakni Mr. Amir Sjarifuddin. Walhasil laskar-laskar yang berafiliasi dengan komunis memperoleh prioritas dan fasilitas dalam pembagian senjata, termasuk perlengkapan lainnya. Di masa Kusman bergabung, Batalyon Sudigdo dikomandani oleh Letkol Suadi Suramihardjo.
"Batalyon ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalyon yang ikut PKI.
Kusman bersama anggota Batalyon Sudigdo dan prajurit TNI saat itu mendapat pengetahuan tentang faham komunisme langsung dari elit PKI, Alimin. Hal ini menjadikan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman khawatir.