Habib Teupin Wan Pejuang Aceh

Опубликовано: 17 Июнь 2026
на канале: JELAJAH WAKTU
742
17

Perang Aceh merupakan sebuah perang terdahsyat yang terjadi di penghujung abad ke-19 M dan awal dari proses perubahan kehidupan masyarakat Aceh dari sistem kerajaan ke sistem kolonial dan kemudian menjadi sistem negara kesatuan Republik Indonesia. Awal mulanya terjadi perang Aceh pada tahun 1873 adalah dari keinginan Belanda untuk menguasai kerajaan-kerajaan yang terdapat di Selat Malaka.

Sejak awal sebelum perang dahsyat ini meletus, telah banyak tokoh berperan, antaranya dua tokoh dalam kontribusinya terhadap Perang Aceh dari golongan habaib adalah Habib Abdurrahman Az-Zahir dan Habib Abdurrahman Teupin Wan.
Keduanya merupakan tokoh yang terlibat langsung dalam perang Aceh, tetapi memiliki kisah yang berbeda dalam menyikapi perang tersebut.

Habib Abdurrahman Az-Zahir lahir pada tahun 1832 M di Tarim, Hadramaut. Masa kecil beliau dilewati di Tarim, Malabar dan Mesir dikarenakan ayah beliau adalah seorang pedagang yang sering bepergian ke berbagai negara. Beliau datang ke Aceh pada masa Sultan Ibrahim Mansur Shah (w.1870 M) dengan jabatan pertama sebagai kepala Mesjid Raya Baiturrahman. Kemudian beliau diangkat menjadi Ulee Balang Cot Putu, hakim dan juga seorang diplomat dari kerajaan Aceh pada tahun 1868 M. Habib Abdurahman Az zahir telah dibahas secara rinci di video sebelumnya di Channel ini. Habib Abdurrahman Az-Zahir berakhir sebagai orang yang menyerah dan meminta bayaran kepada pihak Kolonial belanda Sebanyak 10.000 dollar amerika dalam 1 tahun agar supaya dirinya tidak ikut berjuang dan menetap di Arab serta memberikan saran-saran kepada Kolonial agar bisa mengalahkan Kerajaan Aceh. Link Videonya ada di deskripsi.

Sedangkan tokoh satu lagi, Habib Teupin Wan tidak semasyhur Habib Az-Zahir. Tokoh kedua yakni Habib Abdurrahman Teupin Wan. Beliau merupakan bagian jaringan ulama yang mengumandangkan semangat Perang Sabil terhadap kafir Belanda.  Beliau merupakan seorang tokoh Aceh yang berasal dari Mukim XXIV tepatnya di Teupin Wan dekat Lamnyong.

Habib Teupin Wan merupakan nama laqab dari Habib Abdurrahman bin Hasan Asseqaf yang berasal dari Teupin Wan di Mukim XXVI.
Sosok ulama pejuang yang luput dari catatan sejarah Aceh, walaupun beliau telah berjuang selama 38 tahun menjaga tanah Aceh dari tangan asing tanpa mengenal kata menyerah.
Tidak banyak peneliti lokal yang melakukan kajian tentang sejarah hidup beliau, padahal beberapa penulis asing telah menuliskan sedikit banyak riwayat hidup beliau, di antaranya H.C.Zentgraff dalam bab “seorang keramat.”

Dijelaskan H.C.Zentgraff bahwa Habib Teupin Wan merupakan sosok yang tidak kenal kompromi dengan Belanda dan terus menyerukan jihad untuk melawan penjajahan di Tanah Aceh.

Hal ini mencerminkan kecintaan dan kepahlawanan beliau dalam mempertahankan tanah kelahirannya.
Abdurrahman bin Hasan Asseqaf telah aktif berjuang dalam perang Aceh sejak tahun 1873 M.

Awal mulanya terjadi perang Aceh dari keinginan Belanda untuk menguasai seluruh sumber daya alam di pulau Sumatera dengan cara melemahkan posisi Aceh di Selat Malaka dan kerajaan-kerajaan yang berada di sekitarnya.

Proses pelemahan ini terlihat dari dibuatnya perjanjian Traktat Sumatera dengan pihak Inggris pada tahun 1871 M/1288 H (Ismail S, dkk, 1977).

Dengan perjanjian ini, Belanda dapat dengan leluasa untuk memperluas daerah jajahannya di Sumatera, sehingga bagi Aceh ini merupakan sebuah ancaman bagi kedaulatannya.

Awal perjuangan Habib Abdurrahman bin Hasan Asseqaf atau Habib Teupin Wan dimulai Mukim XXVI dengan mendirikan sebuah benteng dekat makam seorang keramat yang bernama Tengku Di Leung Keung yang masih berada di wilayah Mukim XXVI.