Prof. Dr. Anhar Gonggong, M.A. (lahir 14 Agustus 1943) adalah sejarawan dan birokrat Indonesia.
Pendidikanya dimulai dari
S1 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1976.
S2 Universiteit Leiden, Negeri Belanda.
S3 Doktor Ilmu Sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, 1990.
Prof Anhar mulai mengajar sebagai seorang Guru di SMA Lampung tahun 68-79
Beliau peneliti di Pusat Penelitian Sejarah dan Antripologi di Yogjakarta
Pernah menjabat direktur di direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud tahun 96-99
Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Sejarah dan Purbakala Depdikbud 2001-2003
Dosen pembimbing bidang studi sejarah pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia (sejak 1991) dan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (sejak 2001).
Sehingga beliau adalah orang yang sangat kompeten dalam bicara sejarah.
Dalam Video ini ada banyak pertanyaan yang akan dijawab oleh Prof. Anhar Gonggong
Diantaranya adalah
Siapa pembuat merah putih yang sebenarnya?
Apakah pahlawan seperti Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Teku Umar, Pangeran Dipenogoro bukan darah Pribumi ?
Dan apakah benar penentu hari proklamasi 17 Agustus 1945 adalah dari kalangan orang Arab?
Perlu ditahui, keluarga Prof. Anhar Gonggong adalah korban kebiadaban pemberontakan Westerling, di Sulawesi Selatan.
Saat itu pasukan Depot Speciale Troepen yang dipimpin Kapten Raymond Pierre Paul Westerling menyisir desa-desa di Sulawesi Selatan. Hanya sekitar tiga bulan dari Desember 1946 hingga Februari 1947, ribuan nyawa melayang dan darah tertumpah di sana.
Termasuk keluarga prof. Anhar Gonggong. "Ayahnya dibunuh bersama dua kakaknya. Satu kakak dikubur bersama ayah, yang lain di kota berbeda, Pare-pare
Ayahnya, Andi Pananrangi adalah mantan raja di kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, Kerajaan Alitta. Ia memang sudah lama jadi incaran Belanda, dicap sebagai musuh.
Kala itu, Anhar yang anak bungsu baru berusia 3 tahun. Ia dan ibunya mengungsi ketika ayahnya ditangkap dalam Pembantaian Westerling.
Pamannya, sepupunya juga dibantai. Kalau dihitung secara keseluruhan di lingkungan keluarga dekat, ayah, kakak, paman, sepupu, sampai 20-an orang yang menjadi korban.
Kenapa bendera Indonesia Merah Putih ? Jika ditelusuri lebih dalam, jauh sebelum Kerajaan Nusantara Kedua warna itu sering digunakan dalam acara adat istiadat suku Austronesia karena dipercayai dapat membawa kesaktian.
Beberapa negara yang tergabung dalam kelompok Austronesia, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Taiwan, serta Madagaskar menggunakan kombinasi warna merah dan putih pada bendera mereka.
Masuk ke Masa Kerajaan Nusantara, bendera Merah Putih Indonesia ternyata sudah berkibar sejak zaman Kerajaan Nusantara.
Pada masa pemerintahan kerajaan di wilayah Nusantara, panji-panji kebesaran yang mencakup warna merah dan putih sering kali diadopsi, termasuk oleh Kerajaan Majapahit (1293–1527 Masehi). Menurut catatan Muhammad Yamin dalam bukunya 6.000 Tahun Sang Merah Putih (2017), Majapahit menjadi kerajaan pertama yang mengadopsi bendera merah putih sebagai simbol kebesarannya pada abad ke-13, diikuti oleh Kerajaan Kediri.
Begitu juga dengan Sisingamaraja IX dari Batak yang memakai warna merah menyala dan putih untuk bendera perangnya.
Di masa kejayaan Kerajaan Bugis Bone di Sulawesi Selatan, bendera merah putih menjadi lambang keagungan kerajaan. Perang Aceh menjadi babak baru dalam perjalanan bendera merah putih. Pejuang di Aceh menggunakan umbul-umbul berwarna merah dan putih dengan gambar pedang, matahari, bintang, bulan sabit, dan ayat suci Al Quran.
Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro juga menyaksikan penggunaan panji berwarna merah dan putih oleh pasukannya. Selanjutnya, memasuki abad ke-20 atau era pergerakan nasional, bendera dengan warna merah dan putih berkibar saat pelaksanaan Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta) pada 28 Oktober 1928. Kongres ini menghasilkan Sumpah Pemuda. Kala itu, Bendera Merah Putih diangkat sebagai simbol protes dan semangat oleh pelajar dan kaum nasionalis sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan Belanda.