Soekarno dan Dipa Nusantara (D.N) Aidit pernah berada dalam satu kantor. Keduanya tergabung dalam organisasi Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Alih-alih memiliki hubungan baik, Keduanya digambarkan sering berselisih.
Namun, semua berubah ketika Indonesia merdeka. Soekarno dan Aidit menjelma jadi teman baik. Soekarno banyak mendukung Aidit dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kemesraan itu terlihat dalam perayaan hari ulang tahun PKI ke-45 yang digelar di Stadion Utama GBK pada 23 Mei 1965.
Sejarah membuktikan hubungan keduanya mencapai titik paling mesra pada tahun 1965. Soekarno yang menjabat sebagai Presiden Indonesia banyak mendukung aktivitas politik dari partai yang dipimpin AIdit: PKI.
GBK sendiri notabene dikenal sebagai mimbar megah yang didirikan Soekarno untuk mengumpulkan massa.
Poster-poster wajah Soekarno dan Aidit terpampang di seantero jalanan ibu kota. Wajah keduanya bahkan disandingkan dengan tokoh revolusioner luar negeri. Dari Lenin hingga Karl Marx. Belum lagi, bendera Palu Arit banyak sebar di kampung-kampung. Suatu Penanda PKI sedang sedang berpesta.
Di dalam stadion tak kalah gegap gempita. Ratusan ribu simpatisan PKI menyambut kehadiran Soekarno dan Aidit. Soekarno pun berpidato mengungkapkan kekagumannya terhadap PKI.
Momentum keduanya berangkulan pun disambut dengan tepuk tangan yang bergemuruh.
"Aku, sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan Mandataris MPRS, memang merangkul PKI. Sebab, siapa yang bisa membantah bahwa PKI adalah unsur hebat dalam penyelesaian Revolusi Indonesia? PKI telah menjadi semakin kuat. PKI kini beranggotakan tiga juta orang, Pemuda Rakyat tiga juta orang, simpatisannya 20 juta orang.”
“Apa sebab PKI bisa jadi demikian besar? Oleh karena PKI konsekuen progresif revolusioner. Aku berkata, PKI yo sanak-ku, ya kadang-ku, yen mati aku melu kelangan," kata Sukarno dengan sangat bersemangat sebagaimana ditulis Julius Pour dalam buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang (2010).