Amurwani, adalah kata yang artinya: memulai. Dan memang demikianlah yang terjadi. Pertemuan yang memulai kembali sesuatu yang sudah lama tak dilakukan. Ini merupakan pertemuan pertama kali, sejak terjadinya pandemi Covid-19, selama nyaris tiga tahun. Hari Minggu pagi menjelang siang, saya bertemu dengan Mas Vito dan Mbak Vina, di ruang sekretariat PSTK-ITB. Berkenalan sejenak, lalu kita bertiga bersepakat untuk pindah ke Ruang Latihan Bersama (RLB). Di ruang itu untuk pertama kali setelah nyaris tiga tahun, saya lihat Gamelan Kyai Sekar Ganesa Lokananta. Saya susah untuk berkomentar. Karena pasti terjadi banyak perubahan. Selama berjam-jam selanjutnya kita bertiga berbincang tentang berbagai hal. Juga termasuk apa yang hendak dilakukan dan direncanakan, selepas tiga tahun nyaris seluruh kegiatan vakum. Kita juga mendiskusikan bagaimana kemungkinan menghidupkan kembali PSTK-ITB sebagai organisasi, yang sekarang statusnya jadi tidak jelas, karena tidak ada anggota dan pengurusnya. Seperti sebuah negara, yang masih ada wilayahnya, tetapi tidak ada penduduk dan pemerintahnya.
Lalu kita saling bercerita, berkisah, tentang berbagai hal. Dan, bagian yang paling menyenangkan, adalah memperkenalkan kembali, terutama kepada Mbak Vina, tentang 12 jurus memainkan Ricikan Gender Pambarung. Meskipun saya tidak mentargetkan apa-apa, karena Mbak Vina beberapa hari ke depan, harus menghadapi Sidang Tugas Akhir-nya. Tetapi, paling tidak meskipun kepadanya tidak dibebani apa-apa, kepadanya diberikan pemahaman bahwa memainkan Ricikan Gender Pambarung itu tidaklah sesukar yang dibayangkan orang.
Lalu bagian lain yang juga sangat menyenangkan, adalah saya dan Mas Vito, melantunkan kembali Tembang Suluk Pesisir. Menggunakan Ricikan Gender Pambarung, Laras Slendro kesukaan saya, meskipun harus sedikit diperbaiki lebih dahulu sebelum bisa digunakan. Juga, kelihatannya makhluk ini sudah bertahun-tahun tidak pernah disentuh. Ditaruh di sisi luar kalangan ricikan gamelan lainnya. Dan, setelah semuanya siap, maka kita berdua, disaksikan oleh Mbak Vina, di ruang latihan yang sunyi itu melantunkan tembang suluk dengan suka-cita. Berlangsung berjam-jam, dan Mbak Vina berbaik hati merekam seluruh perjalanan 'nembang' itu, pada sekitar setengah jam terakhir pertemuan kita, yang penuh dengan canda riang, tawa ceria, dan segala kegembiraan hari Minggu yang cukup cerah itu. Pertemuan, berakhir menjelang pukul 15:00 sore. Saya pulang, sementara Mas Vito dan Mbak Vina kembali ke ruang sekretariat. Malam harinya, menjelang tengah malam, saya berhasil mengunduh file rekaman video yang dikirim Mbak Vina. Dan, jadilah rekaman penuh kegembiraan ini........